Oleh :Omas Witarsa.
Benar…….Hari ini Selasa tanggal 14 September 2010 seharusnya menjadi hari yang Istimewa untuk warga Bandung dan Curug Dago khususnya ………betapa tidak ? Walikota Bandung H.Dada Rosada bersama Kepala Dinas di Jajaran Pemerintah Daerah Jawa-barat ; Kepala Dinas Parisata dan Budaya, Kepala Dinas Kehutanan, Kepala THR Ir H.Juanda beserta stafnya turut hadir disana, dan tidak kalah pentingnya Duta Besar Thailand Mr Thanatip Upatising beserta para Consellor yang didampingi oleh Executive vice President PTT Exloration and Production Publik Company Limited (atau Perusahaan minyak Thailand yang beroperasi di Indonesia ) Mr Luechai Wongsirasawad yang kemarin langsung terbang dari Thailand hanya untuk menghadiri acara istimewa ini. serta satu lagi tamu yang hadir yaitu Director of the Secretariat of the Directorate Generale of Asia Pasific and African Affairs Ibu Kenssy Ekaningsih tampak hadir di sana dan Masyarakat Thailan yang berada di Indonesia. Namun masyarakat Dago tampak sepi-sepi saja.
Acara diawali oleh sambutan Duta Besar Kerajaan Thailand untuk Indonesia yang baru Mr. Thanatip Upatising dalam sambutanya ia memaparkan betapa hubungan emosional Thailand -Indonesia telah berlangsung ratusan tahun yang lalu , Terbukti dengan kunjungan yang berulang kali dilakukan oleh Raja Rama V dan Rama ke VII ke tempat yang eksotis seperti Curug Dago ini . adanya kedua prasasti membuktikan Kota bandung adalah salah satu tempat yang sangat penting bagi Wisatawan Mancanegara termasuk Wisatawan Thailand. Diharapkan adanya Dua buah rumah Thailand yang disebut SALA THAI ini dapat menjadi pengikat yang kuat hubungan Indonesia dan Thailand dan dapat menjadi daya tarik pariwisata lokal maupun internasional . Beliau mengatakan bahwa di dunia hanya ada 2 negara yang menggunakan Garuda sebagai simbol negaranya yaitu Thailand dan Indonesia .Acara hari ini diselenggarakan dalam rangka memperingati 60 tahun Persahabatan Thailand –Indonesia.
Kenssy Ekaningsih dalam Introductory speech nya yang berjudul “Hubungan Bilateral Thailand Dan Indonesia” itu mengatakan banyak kesaman Budaya , kostum, kuliner, alat musik dan lain-lain antara bangsa Indonesia dan Thailand, begitu juga hubungan ekonomi dan sosial , Thailand turut berperan dalam membantu korban Sunami Aceh dan Indonesia turut membantu dalam mengupayakan perdamaian dalam konflik di Thailand selatan , begitu juga pertukaran pelajar antar kedua negara sudah berlansung lama , para tokoh agama dan organisasi keagamaan sepertu NU melakukan kunjungan untuk meningkatkan rasa saling pengertian antar umat beragama bagi kedua negara dan Bangsa Asean umumnya.
Executive Vice President PTTEP Plc.Thailand Mr Luechai Wongsirawad dalam sambutanya mengatakan ;” Kami sangat Bangga menjadi bagian dari peresmian “Sala Thai” di Curug Dago ini “. Ia berharap hal ini dapat bermanfaat dan berpengaruh terhadap peningkatan tarap hidup masyarakat di tempat ini.
Perusahaan pengeboran minyak Thailand ini adalah yang mensposori pembangunan 2 buah rumah Thai ( SALA THAI) yang melindungi 2 buah prasasti kedua raja dari Kerajaan Thailand yaitu Rama V yang sangat termashur sebagai pembaharu bagi bangsa Thailand , sehingga Thailand menjadi satu-satunya negara atau kerajaan yang tidak pernah dijajah oleh bangsa asing, nama besar itu adalah Chulalongkorn Atau Chulachomklao Paramithara atau Chulalongkorn Chaoyuhua dan banyak nama lain yang menyiratkan betapa berpengaruhnya murid Anna leonown ini. Tahun penulisan inskripsi diatas batu ini adalah th 1901 dan ditulis pada kunjungan ke 3 ( kunjungan yang pertama th 1871 , kedua th 1896 dan ketiga th 1901), Beliau ini dinobatkan menjadi raja dalam usia 16 tahun, menggantikan Ayahandanya Raja Mongkut ( Mongkut Klao ) atau Raja rama ke IV , ialah yang mengundang Guru Bahasa Inggris Anna Leonown untuk mengajar di istana suatu keberanian yang luar biasa demi untuk mengangkat nama bangsa Thailand di mata dunia barat, Raja rama ke V ini melakukan perubahan dalam segala bidang , termasuk tatakrama didalam istana yang sangat menghambat dihilangkan .
Raja yang ke dua adalah Rama VII dan bernama Prajathipok, beliau adalah putra raja Rama V yang ke 76 , Inskripsi yang tertera di batu Curug Dago ini bertahun 1929 ini pun ditulis pada kunjungan napak tilas ayahandanya yang ke dua ke Curug dago , Raja Prajathipok memerintah tidak terlalu lama , karena revolusi kebudayaan akibat kesadaran Demokrasi bergejolak dari kalangan bawah sampai ke kalangan atas.
Lalu mengapa Kegiatan 60 tahun persahabatan Thailand Indonesia ini diadakan di Curug Dago yang sepi, becek , ngga ada ojeg……. semua berawal dari peristiwa yang terjadi pada bulan April 2008 Cungkup Raja Rama V yang hancur tertimpa batu dari tebing yang berada diatasnya. Karena dinas kehutanan tidak ada dana untuk perbaikan itu, akhirnya pemerintah Thailand melalui Duta Besar Thailand Mr Akrasid Amayatakul mengganti Cungkup pelindung kedua prasasti tersebut.
Sebagaimana diketahui kedua cungkup yang lama dibangun pada tahun 1991 oleh “Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Propinsi Jawa-Barat , DKI Jakarta dan Lampung . Direktorat Jendral Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan atas permohonan Pemerintah Thailand “
Dengan menghabiskan dana sekitar 36 juta rupiah lebih dikeluarkan oleh Suaka peninggalan Sejarah dan Purbakala Jawa-Barat yang saat itu dipimpin oleh Drs.Halwany Michrob, M.Sc (Alm) , maka dilakukan ekskavasi dan penataan sarana lainnya , termasuk 2 buah cungkup penutup di kedua batu Prasasti tersebut dan menggunakan atap ijuk..
Semua langkah langkah itu dapat terwujud adalah atas usulan yang penulis (Omas Witarsa) ajukan melalui surat pada tahun 1990 kepada Yang Mulia Raja Thailand Bhumipol Adul Yadej di Citralda Palace Bangkok Thailand.
Kemudian tahun berikutnya Dinas Pariwisata membangun 2 buah gazebo serta sarana jalan dari terminal Dago sampai ke lokasi Air terjun, dan salah seorang pejabat ITB Dr.Junil Kahar memperbaiki Jalan setapak dari perumahan Dosen ITB menuju ke Curug dago menjadi lebih baik.
Pemerintah Thailandpun tidak segan- segan memberikan dana bantuanya setiap tahun untuk Curug Dago dan Beberapa tempat lainnya di Indonesia.
Dr Chaiyong Satjipanon ( Dubes Thai untuk Indonesia th 2003) pernah mengadakan Peringatan kelahiran dan Wafatnya Raja Culalongkorn (Rama V lahir pada 20 September 1853 , dan wafatnya pada tgl 23 Oktober 1925 ) yang ke 150 di Curug Dago pada hari Sabtu 23 Oktober 2003 itu lengkap dengan acara ritual agama Budha . Dan sempat menanam bunga Nerium Oleander sebagai bunga persahabatan Thailand -Indonesia bersama pejabat berwenang di jawa-barat
Namun sayang kurangnya koordinasi terutama antara Dinas Purba kala, Dinas Pariwisata, dan Dinas Kehutanan , sehingga bunga Nerium Oleander yang ditanam oleh Dubes Thailand, Kepala Diparda dan Dinas Purbakala serta tokoh masyarakat yang hadir pada saat itu dengan semangat kebersamaan antara Thailand dan Indonesia itu habis dibabat , diganti dengan taman bunga yang baru oleh salah satu instansi yang berwenang di Curug Dago.
Begitu juga kurangnya Fasilitas umum dan tidak terawatrnya areal Curug Dago ini membuat pengunjung tidak betah berlama-lama disana
Setelah 17 tahun akhirnya Kedua batu Prasasti Raja Rama V dan Raja Rama VII mendapat cungkup ( Paviliun ) yang baru Cungkup itu bernama SALA THAI atau rumah Thailand dengan Warna Merah Kastuba dan kaca patri serta dihiasi beberapa ukiran menggunakan ragam hias belalai dan gading gajah di ujung atapnya, serta menggunakan genting dari Papan ( bukan sirap atau Ijuk ) berwarna kuning tua kemerah-merahan yang sudah diolah sehingga tahan air.
Semua bahan dikirim dari Thailand dalam bentuk bongkar pasang atau Knockdown sehingga memudahkan pengangkutanya ke Indonesia . Bahan bangunanya terbuat dari kaca dan kayu Thailand yang telah dipersiapkan sesuai kondisi di Curug Dago.
First Secretary Mr Nattaphol Na Songkla yang memimpin team untuk pemasangan cungkup baru itu , serta dibantu oleh seorang Arsitek Mr Stiriphong dan 3 orang tukang serta 1 orang penerjemah bernama Sam semuanya dari Thailand .
Dalam wawancara dengan penulis Mr Stiriphong menyampaikan ucapan terima kasihnya kepada warga Curug Dago, yang telah membantu membawa dan menurunkan bahan bangunan sehingga sampai ke situs dalam keadaan utuh , mengingat medan yang sangat sulit dan terjal , tanpa bantuan penduduk semuanya tidak akan berhasil. Beliau juga menyampaikan bahwa pekerjaan diperkirakan selesai dalam 2-3 minggu kedepan. Diharapkan bulan Juni 2008 ini peresmianya dapat dilakukan , dan kabarnya Cucu Yang Mulia Raja Bhumipol Adul Yadej akan Hadir di Curug dago apa bila tidak ada halangan .
Pekerjaan Penggantian cungkup saat ini dilakukan atas kerja sama kedutaan Thailand dengan Dinas Kehutanan , Kawasan Pelestarian Alam Taman Hutan Raya Ir Hj.Juanda yang dipimpin oleh Kepala Balai saat itu Ibu Ir Bebben Tresna Chandra MM beserta jajaranya.
“ Dengan di perbaikinya cungkup Prasasti Raja Thailand tersebut diharapkan apresiasi masyarakat terhadap kekayaan alam seperti Curug Dago akan semakin meningkat serta mau bersama-sama bahu membahu untuk melestarikan keindahan alam Parahyangan yang tiada ternilai ini.” Demikian ungkapnya.
Saat ini keberadaan kedua Sala Thai “ di Curug Dago itu dapat dilihat dari atas Jembatan,yang menghubungkan Desa Punuk Curug Kelurahan Ci Dadap dengan Kelurahan Dago dan akan menambah anggunya curug Dago apa bila kita nikmati dari seberang air terjun Dago .
Saat ini kondisi jalan menuju ke situs dari atas sudah rusak dibeberapa sisinya , besi pegangan hampir semuanya habis dipotong dicuri orang. Hal ini bisa dimengerti karena hanya ada 1 orang penjaga situs yang digaji ( honorer) oleh dinas Purbakala atau dinas Pariwisata. Jalan setapak ( Tangga seribu) yang menuju ke terminal Dago pun sudah tidak ada karena diganti dengan jalan aspal yang menuju ke sekolah Stanford Internasional .
Di Curug Dago juga sebaiknya di sediakan Fasilitas Umum Air bersih, warung-warung makan atau Cenderamata yang khas dari Curug Dago,Mushola dan MCK, tempat parkir yang aman sehingga pengunjung menjadi betah berlama lama disana, tentu dengan koordinasi dan pengarahan yang baik agar tidak melanggar aturan hutan konservasi .
Ada baiknya di areal Curug Dago diberi rambu-rambu Anjuran untuk bertindak Sopan santun dan tidak melanggar kesusilaan. Karena Curug Dago sejak dulu sering dijadikan tempat untuk muda-mudi berpacaran tanpa batas.
Curug Dago dengan adanya kedua Sala Thai yang baru diharapkan memiliki paradigma yang baru pula, harus lah dijaga kebersihan dan kesucianya , karena Situs batu tulis kedua Raja Thailand itu sangat dihormati oleh masyarakat Thailand dan sering dijiarahi oleh turis-turis mancanegara khususnya yang datang dari Negara Thailand .
Banyak hal yang dapat dikembangkan di curug Dago ini, selain Potensi alamnya seperti Curug Meri , kekayaan Flora dan Fauna harus dihidupkan kembali, juga pemberdayaan masyarakatnya menjadi Darwis ( sadar wisata ) dapat dikembangkan dengan system “Community Based Tourism atau Pariwisata Berlandaskan Pada Masyarakat “ .
Dia areal Curug Dago tanggal 23 Desember 2009 pernah dilakukan Penanaman pohon penghijauan di batas kota atau Green belt yang dilakukan oleh 4 kepala daerah Jawabarat , yaitu 2 Bupati dan 2 walikota dan dihadiri oleh segenap stekholder yang ada di jawabarat, dengan penanaman 2400 pohon produktif yang kelak dapat dimanfaatkan oleh masyarakat hasilnya, gerakan ini dimotori oleh LSM. CAMEL ( Penjelajah rimba dan pendaki Gunung ), Gema peta dan beberapa komunitas yang ada di Bandung hanya dengan bermodalkan semangat dan nasi liwet. Sehingga pamor Tahura Ir.H.Juanda semakin naik di Curug Dago in. .
Taman Hutan Raya Ir.H. Juanda sebaiknya melakukan penataan ulang , terutama keberadaan Jembatan yang berada di atas mulut air terjun harus dikaji ulang dan dicarikan solusi terbaik agar wisatawan dapat menikmati indahnya Curug Dago dari depan,karena selama ini tidak ada akses jalan yang aman dan nyaman untuk dilalui sampai ke lokasi strategis untuk menikmati indahnya Curug Dago .
Kemudian rumah penduduk harus ditata agar Higienis dan bisa dijadikan tempat menginap para Backpaker seperti di Jogya , Bali dll.
Sekolah Alam yang berada di atas Curug Meri dihimbau agar Sawah dan kolamnya jangan sampai habis dijadikan perumahan karena itu akan mengancam kelestarian Curug Meri (Air terjun Bebek) apabila airnya menjadi kering.
Begitu juga lahan tidur milik ITB yang berada di sebelah tanah Power Indonesia ( PLN) sebaiknya di hijaukan tengan tanaman keras sehingga menambah hijaunya kawasan konservasi air, bukan dengan tanaman palawija. tidak kalah pentingnya adalah upaya rehabilitasi sungai Cikapundung yang kian hari kian kotor oleh sampah dan polusi Kepedulian LSM Camel seyogyanya mendapat dukungan dan arahan dari semua pihak yang berwenang.
Hari Selasa ini tgl 14 September 2010 seharusnya menjadi hari yang istimewa bagi warga Bandung umumnya dan warga Dago khususnya, karena Curug Dago menjadi tempat pusat peringatan 60 tahun persahabatan Thailand-Indonesia , bahkan Luechai Wongsirasawad seorang Executive Vice President perusahaan pengeboran minyak Thailand yang beroperasi di Indonesia pun datang lansung dari Bangkok sehari sebelumnya , untuk menghadiri acara peresmian kedua Sala Thai di Curug Dago ini .
Bukankah ini potensi pariwisata yang seharusnya bisa dinikmati oleh warga Bandung, seharusnya instansi berwenang mau melakukan mobilisasi, partisipasi masyarakat kita yang masih serba kekurangan itu , agar mampu meraup rizki dari kunjungan wisatawan lokal maupun asing dengan melakukan pembinaan sehingga bisa saling menguntungkan kedua pihak. Karena sampai saat ini Warga Curug Dago hanya bisa gigit jari melihat banyaknya pengunjung ke Curug Dago.
Penulis seringkali kikuk ketika ditanya oleh para tamu yang datang dari manca negara itu , mengapa tempat sebagus ini tidak dikelola dengan baik ?………jawabnya hanya menunggu dan menunggu.
Seperti peribahasa ini ” Didago-Dago kalah ka Ledeng, hanas didodoho hasilna lebeng”. ( Di Dago-Dago malah ke Ledeng , eee …ditunggu tunggu tiada hasil ).(OW. LPM-ITB 15/9/2010)
Kaitkata: dubes THailand. Curug Dago


