
omas witarsa

Setelah beberapa waktu yang lalu atap cungkup (Paviliun) prasasti Raja Thailand di Curug Dago rusak berat , tertimpa batu dari atas tebing , akhirnya pemerintah Thailand melalui Duta Besar Thailand Mr Akrasid Amayatakul mengganti Cungkup pelindung kedua prasasti tersebut.
Sebagaimana diketahui kedua cungkup yang lama dibangun pada tahun 1991 oleh “Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Propinsi Jawa-Barat , DKI Jakarta dan Lampung . Direktorat Jendral Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan atas permohonan Pemerintah Thailand “
Dengan menghabiskan dana sekitar 36 juta rupiah lebih dikeluarkan oleh Suaka peninggalan Sejarah dan Purbakala Jawa-Barat saat itu dipipimpin oleh Drs Halwany Mchrob, M.Sc (Alm) , maka dilakukan ekskavasi dan penataan sarana lainnya , termasuk 2 buah cungkup penutup kedua batu Prasasti tersebut.
Semua langkah langkah itu dapat terwujud adalah atas usulan yang penulis (Omas Witarsa) ajukan melalui surat pada tahun 1990 kepada Yang Mulia Raja Thailand Bhumipol Adul Yadej di Citralda Palace Bangkok Thailand.
Kemudian tahun berikutnya Dinas Pariwisata membangun 2 buah gazebo serta sarana jalan dari terminal Dago sampai ke lokasi Air terjun, dan salah seorang pejabat ITB memperbaiki Jalan setapak yang menuju ke Curug dago menjadi lebih baik dari perumahan Dosen ITB.
Pemerintah Thailandpun tidak segan- segan memberikan dana bantuanya setiap tahun untuk Curug Dago dan Beberapa tempat lainnya di Indonesia
Dr Chaiyong Satjipanon ( Dubes Thai untuk Indonesia th 2003) pernah mengadakan Peringatan kelahiran dan Wafatnya Raja Culalongkorn (Rama V lahir pada 20 September 1853 , dan wafatnya pada tgl 23 Oktober 1925 ) yang ke 150 di Curug Dago pada hari Sabtu 23 Oktober 2003 itu lengkap dengan acara ritual agama Budha . Dan sempat menanam bunga Nerium Oleander sebagai bunga persahabatan bersama pejabat berwenang di jawa-barat
Namun sayang kurangnya koordinasi terutama antara Dinas Purba kala, Dinas Pariwisata, dan Dinas Kehutanan , sehingga bunga Nerium Oleander yang ditanam oleh Dubes Thailand, Kepala Diparda , dan Dinas Purbakala dan tokoh masyarakat yang hadir pada saat itu dengan semangat kebersamaan antara Thailand dan Indonesia itu habis dibabat , diganti dengan taman bunga yang baru oleh salah satu instansi yang berwenang di Curug Dago.
Begitu juga kurangnya Fasilitas umum dan tidak terawatrnya areal Curug Dago ini membuat pengunjung tidak betah berlama-lama disana
Setelah 17 tahun kini Kedua batu Prasasti Raja Rama V dan Raja Rama VII mendapat cungkup ( Paviliun ) yang baru dengan Warna Merah Kastuba dengan kaca patri dan beberapa ukiran menggunakan ragam hias belalai dan gading gajah di ujung atapnya serta menggunakan genting dari Papan ( bukan sirap atau Ijuk ) berwarna kuning tua kemerah-merahan
Semua bahan dikirim dari Thailand dalam bentuk Knockdown sehingga memudahkan pengangkutanya ke Indonesia . Bahan bangunanya terbuat dari kaca dan kayu Thailand yang telah dipersiapkan sesuai kondisi di Curug Dago.
First Secretary Mr Nattaphol Na Songkla yang memimpin team untuk pemasangan cungkup baru itu , serta dibantu oleh seorang Arsitek Mr Stiriphong dan 3 orang tukang serta 1 orang penerjemah bernama Sam semuanya dari Thailand .
Dalam wawancara dengan penulis Mr Stiriphong menyampaikan ucapan terima kasihnya kepada warga Curug Dago yang telah membantu membawa dan menurunkan bahan bangunan sehingga sampai ke situs dalam keadaan utuh , mengingat medan yang sangat sulit dan terjal , tanpa bantuan penduduk semuanya tidak akan berhasil. Beliau juga menyampaikan bahwa pekerjaan diperkirakan selesai dalam 2-3 minggu kedepan.
Diharapkan bulan juni ini peresmianya dapat dilakukan , dan kabarnya Cucu Yang Mulia Raja Bhumipol Adul Yadej akan Hadir di Curug dago apa bila tidak ada halangan .
Pekerjaan Penggantian cungkup saat ini dilakukan atas kerja sama kedutaan Thailand dengan Dinas Kehutanan , Kawasan Pelestarian Alam Taman Hutan Raya Ir Hj.Juanda yang dipimpin oleh Kepala Balai Ibu Ir Bebben Tresna Chandra MM beserta jajaranya.
“ Dengan di perbaikinya cungkup Prasasti Raja Thailand tersebut diharapkan apresiasi masyarakat terhadap kekayaan alam seperti Curug Dago akan semakin meningkat serta mau bersama-sama bahu membahu untuk melestarikan keindahan alam Parahyangan yang tiada ternilai ini.” Demikian ungkapnya.
Saat ini keberadaan kedua “ Litle Red House di Curug Dago “ itu dapat dilihat dari atas Jembatan,yang menghubungkan Desa Punuk Curug Kelurahan Ci Dadap dengan Kelurahan Dago dan menambah anggunya curug Dago apa bila kita nikmati dari seberang air terjun Dago .
Saat ini kondisi jalan menuju ke situs dari atas sudah rusak dibeberapa sisinya , besi penggangan hampir semuanya habis dipotong dicuri orang. Hal ini bisa dimengerti karena hanya ada 1 orang penjaga situs yang digaji ( honorer) oleh dinas Purbakala atau dinas Pariwisata.
Di Curug Dago juga sebaiknya di sediakan Fasilitas Umum Air bersih, warung-warung makan ataun Cenderamata yang khas dari Curug Dago ,Mushola dan MCK, Sehingga pengunjung menjadi betah berlama lama disana .
Ada baiknya di areal Curug Dago diberi rambu-rambu Anjuran untuk bertindak Sopan dan tidak melanggar kesusilaan. Karena Curug Dago sejak dulu sering dijadikan tempat untuk muda-mudi berpacaran tanpa batas.
Curug Dago dengan adanya Cungkup yang baru diharapkan memiliki paradigma yang baru pula, harus lah dijaga kebersihan dan kesucianya , karena Situs batu tulis kedua Raja Thailand itu sangat dihormati oleh masyarakat Thailand dan sering dijiarahi oleh turis-turis mancanegara khususnya yang datang dari Negara Thailand .
Banyak hal yang dapat dikembangkan di curug Dago ini, selain Potensi alamnya seperti Curug Meri , kekayaan Flora dan Fauna juga pemberdayaan masyarakatnya menjadi Darwis ( sadar wisata ) dapat kembangkan dengan system “Community Based Tourism atau Pariwisata Berlandaskan Pada Masyarakat “ .
Dia areal Curug Dago juga ada 1 pohon yang unik, yaitu pohon Kimenyan
( pohon penghasil getah kemenyan yang sudah bolong dan hampir roboh karena sudah cukup tua.) dan memerlukan peremajaan , agar tidak hilang sehingga generasi mendatang dapat mengenalinya.
Begitu juga Hamparan Pemandangan Sengkedan Sawah penduduk Punuk Curug kelurahan Cidadap memberikan pemandangan yang sangat mengesankan apa bila diberi sentuhan artistic ( saat ini lahan itu sudah diincar oleh pengembang realestat, sebagian malah sudah jadi milik salah satu perusahaan pengembang ) sehingga kita tidak tahu sampai kapan lahan itu bisa bertahan ?.
Kemudian Sekolah Alam yang berada di atas Curug Meri dihimbau agar Sawah dan kolamnya jangan habis dijadikan perumahan karena itu akan mengancam kelestarian Curug Meri ( Air terjun Bebek ) apabila airnya menjadi kering. Begitu juga lahan tidur milik ITB yang berada di sebelah tanah Power Indonesia ( PLN) sebaiknya di hijaukan tengan tanaman keras sehingga menambah hijaunya kawasan konservasi air, bukan dengan tanaman palawija atau dijadikan daerah percontohan Teknologi Tepat guna atau wisata Teknologi .
(Omas Witarsa 7/7/2008).